How to Make Sure Agile Teams Can Work Together

Bagaimana Memastikan Tim Yang Tangkas Dapat Bekerja Bersama

Adopsi dari Alia Crockers, Rob Cross, dan Heidi K. Gardner (HBR Article – 15 Mei 2018) dan Pete Matthews (Response Capture Article – 5 April 2016)

Peningkatan volatilitas, ketidakpastian, kompleksitas yang berkembang, dan informasi ambigu telah menciptakan lingkungan bisnis di mana kolaborasi lincah/tangkas lebih penting dari sebelumnya. Organisasi harus terus-menerus mencari perkembangan pasar baru dan ancaman kompetitif, mengidentifikasi para ahli penting dan membentuk dan membubarkan tim dengan cepat untuk membantu mengatasi masalah tersebut dengan cepat. Akan tetapi, kelompok-kelompok lintas fungsi ini sering bertabrakan dengan insentif yang tidak selaras, pengambilan keputusan yang hierarkis, dan kekakuan budaya, yang menyebabkan kemajuan untuk menunda atau tindakan untuk tidak diambil sama sekali.

Bagian penting dari masalah adalah bahwa pekerjaan terjadi melalui kolaborasi dalam jaringan hubungan yang sering tidak mencerminkan struktur pelaporan formal atau proses kerja standar. Secara intuitif, kita tahu bahwa intensitas kerja kolaboratif telah meroket, dan bahwa kolaborasi membutuhkan kelincahan. Namun sebagian besar organisasi tidak mengelola kolaborasi internal secara produktif, dan menganggap bahwa teknologi atau bagan organisasi formal dapat menghasilkan kelincahan.Upaya ini sering gagal karena mereka tidak memiliki jaringan informal — misalnya, karyawan yang berbagi minat dalam inovasi teknologi seperti kecerdasan buatan atau hasrat untuk kelestarian lingkungan, yang dapat menjembatani sistem kewirausahaan dan operasional organisasi dengan membawa ide-ide mutakhir kepada orang-orang yang memiliki sumber daya untuk mulai bereksperimen dan mengimplementasikannya.

Masalah utama dalam sebuah organisasi adalah Silo. Silo adalah istilah bisnis yang telah banyak digunakan pelaku bisnis dalam organisasi selama 30 tahun terakhir. Mentalitas silo dapat terjadi ketika sebuah tim berbagi tugas umum, namun berdasarkan dari kekuasaan dan status dalam kelompok. Adanya kecenderungan untuk enggan berbagi resources  atau berbagi ide dengan kelompok lain. Budaya silo ini menciptakan kolaborasi antar tim menjadi terbatas. Selain itu, kebanyakan kelompok silo ini cenderung memiliki pola pikir sama yang tambah membuat perilaku tersebut terus berkembang dan tetap bertahan. Untuk mengatur kolaborasi antar tim dalam suatu organisasi, perhatikan empat poin eksekusi, dibawah ini :

  • Mengelola pusat jaringan

Seorang CEO bertanggung jawab penuh terhadap terbentuknya mentalitas silo dalam bisnis mereka. CEO secara tidak sadar telah menetapkan irama dan mengatur nilai-nilai sebagai budaya bisnis yang “mengizinkan” berkembangnya mentalitas silo. Dengan mengelola pusat jaringan, yaitu dengan peran CEO memastikan bawha sinergi sungguh menjadi nilai dan budaya kerja sehari-hari

  • Membangun struktur organisasi yang ideal

Agility membutuhkan integrasi kemampuan dan perspektif yang berbeda untuk memahami isu-isu dalam organiasi. Agility dimanfaatkan untuk tidak mengkotak-kotakan tim didalam  sebuah organisasi. Namun lakukan upaya ekstra untuk meninjau ulang struktur organisasi dan mempersatukan seluruh bagian yang ada.

  • Buatlah master plan yang mengintegrasikan seluruh bagian

Didalam sebuah organisasi, dibutuhkan master plan yakni dalam hal ini adalah peta proses bisnis yang mampu membantu jalannya organisasi dengan baik, tepat, dan ideal, sehingga kolaborasi antar agility dapat tercipta antar tim dalam suatu organisasi.

  • Membentang batas eksternal

Agility berkembang ketika karyawan memahami organisasi mereka dalam ekosistem yang lebih luas, dan terus-menerus memindai perkembangan pasar yang menimbulkan ancaman atau peluang. Hal ini membutuhkan pengetahuan dinamis dari pihak eksternal seperti pesaing, pelanggan, regulator, dan komunitas atau asosiasi keahlian.Mereka yang menjangkau batas antara aktor internal dan eksternal dapat memecahkan masalah dengan cara yang unik, karena mereka dapat mengakses pengetahuan dari dunia yang berbeda ini. Mereka juga dapat memfasilitasi kolaborasi tangkas dengan secara efisien mengintegrasikan sudut pandang yang berbeda dan menciptakan solusi multi-pihak, tetapi mereka perlu diberdayakan, dikelola, dan dilengkapi sumber daya dengan benar untuk melakukannya.

Kolaborasi adalah kunci yang memastikan bahwa organisasi dapat menempatkan kolaborasi dijantung visi strategis dan mencipatakan sebuah organisasi yang tidak hanya meningkatkan garis bawah, tetapi juga berfungsi untuk memotivasi individu pekerja menjadi produktif.

 

 

Artikel Terkait :

4 Ways To Create A Learning Culture On Your Team

Perubahan Peran Sumber Daya Manusia Dalam Perubahan Organisasi

KONSULTAN MANAJEMEN SDM

Post Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *