Mengapa Harus New Normal

Istilah “new normal” atau “kenormalan baru” menjadi sangat populer dalam pemberitaan di masa pandemik Covid 19 ini. Tidak hanya di Indonesia, namun di seluruh dunia istilah tersebut seolah menjadi suatu mantra baru dalam hidup bermasyarakat. Namun apakah kita sebagai masyarakat yang sering mendengar dan mengucapkannya atau bahkan ikut mempopulerkannya memahami hakekat dari istilah itu? Opini singkat ini berusaha menjelaskan apa dan mengapa new normal ini hadir di tengah masyarakat, dan seperti apa hidup dalam kondisi new normal. Seperti kita ketahui bersama, sejak merebaknya wabah virus Corona yang menular lewat perantara manusia (human to human transmission), seluruh otoritas di level negara, propinsi, kota, dan wilayah di seluruh dunia mengambil keputusan mendesak, mendadak, dan segera untuk membatasi gerak manusia dan melarang kerumunan manusia dalam seluruh kegiatan sehari-harinya. Istilah lock down atau isolasi wilayah atau social distancing atau physical distancing atau Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau apapun istilah yang kita dengar selama ini tujuannya adalah untuk mengurangi atau mencegah terjadinya penularan antar manusia yang bertemu. Kebijakan pembatasan ini telah membuat hidup masyarakat berubah. Masyarakat yang mau bekerja dibatasi, berakibat kepada keberlangsungan kehidupan sosial dan ekonomi menjadi terganggu. Siswa dan mahasiswa tiba-tiba tidak bisa pergi ke sekolah dan ke kampus untuk belajar. Mereka terpaksa harus belajar secara online. Semua perubahan yang mendadak ini telah membuat masyarakat menjadi kaget  (shock). Inilah awal dari suatu babak baru kehidupan masyarakat dunia.  

Saat kebijakan itu dilaksanakan secara mendadak, mendesak, dan segera, maka sebenarnya saat itu seluruh masyarakat yang mengalami dampak dari kebijakan tersebut telah masuk dalam suatu situasi berakhirnya masa lalu yang biasa dan beralih ke masa yang tidak biasa. Titik ini disebut titik akhir (end). Disebut sebagai titik akhir, karena pada titik ini semua kebiasaan yang lama harus hilang, suka atau tidak suka, siapa atau tidak siap, titik akhir ini telah memaksa semua orang masuk ke babak baru kehidupan. Suasana kebatinan atau kondisi kejiwaan seseorang mengalami kaget(shock), yaitu kondisi kejiwaan yang sangat tidak menyenangkan. Pada titik akhir inilah suatu periode yang baru yang tidak biasa dimulai. Periode baru yang tidak biasa ini disebut dengan periode eksplorasi (explore). Pada periode eksplorasi, suasana kebatinan atau kondisi kejiawaan seseorang menurut Elisabeth Kübler-Ross adalah berturut-turut denial (menolak dan memberontak), frustration (frustasi), dan depression (depresi). Namun perlahan sejalan dengan perkembangan waktu, maka manusia akan mencoba beradaptasi, berusaha melakukan berbagai hal untuk bertahan hidup, dengan menyesuaikan hidupnya (experiment), lalu dari penyesuaian itu ada yang berhasil dan ada yang gagal, kemudian mengambil keputusan hati atau membulatkan tekad (decision), dan akhirnya berhasil mengintegrasikan (integration) kepada sesuatu yang baru. Keberhasilan menemukan sesuatu yang baru disebut sebagai titik new beginning yaitu cara baru, kebiasaan baru, dan perilaku hidup yang sudah berhasil menyesuaikan diri dari serangkaian kesulitan kebatinan yang telah dilalui sebelumnya dari denial, frustration, depression, experinment, decision, sampai integration.

Jika kita melihat lebih jeli bahwa rangkaian end – explore – new beginning adalah suatu periode perubahan. Semua hal di dunia ini selalu diawali dengan mulai dan diakhiri dengan selesai. Sedangkan perubahan adalah satu-satunya hal di dunia ini yang dimulai dari akhir (end), menuju ketidakpastian (explore) dan berakhir dengan awal yang baru (new beginning). Jadi perubahan adalah realitas hidup manusia karena hadirnya suatu kenyataan yang sebelumnya belum ada dan kehilangan kenyataan yang pernah ada. Tadinya semua normal, baik, biasa, dimana mereka yang bekerja, yang pergi ke sekolah dan kampus untuk belajar, yang pergi ke pasar untuk belanja, yang pergi ke tempat rekreasi dapat melakukannya dengan leluasa, tiba-tiba secara mendadak dan terpaksa harus berakhir. Dengan kata lain Pandemi Covid 19 telah membawa perusahan dalam kehidupan umat manusia secara keseluruhan. Mungkin kita bertanya mengapa harus terjadi, mengapa perubahan harus ada secara mendadak dan tiba-tiba. Maka jawaban secara filosofis dan mendasar adalah bahwa perubahan adalah suatu keniscayaan, karena manusia dan alam semesta pada hakekatnya adalah relatif, karena merupakan objek ciptaan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena hakekat manusia dan alam semesta yang relatif ini maka perubahan akan selalu terjadi pada dirinya. Bahkan menurut Price Pritcett bahwa perubahan demi perubahan ini akan datang semakin cepat. Satu-satunya yang mutlak yang tidak berubah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa itu (The Absolut Being).

Lalu apa yang disebut new normal yang kita dengar akhir-akhir ini. Dari penjelasan tentang perubahan di atas, dapat kita simpulkan bahwa new normal adalah masa setelah titik new beginning dari rangkaian perubahan tadi. New normal bukanlah suatu periode keadaan yang terberi (given stage), namun merupakan suatu keadaan yang kita rasakan dari akumulasi suasana kebatinan yang telah kita lewati sebelumnya, dimana situasi kaget (shock) yang tidak menyenangkan telah kita lalui,  penolakan dan pemberontakan batin (denial) telah kita lewati, suasana kebatinan yang tertekan (depression) telah berhasil kita atasi, dan kita telah mulai dengan berbagai penyesuaian (experiment), mengambil keputusan-keputusan (decision) yang perlu, dan akhirnya bisa mengintegrasikan (integration) diri dan sikap kebatinan kita kepada kenyataan dan fakta hidup yang baru. Jadi new normal adalah hidup berdamai dengan fakta hidup yang baru. Mungkin ini juga yang dimaksud oleh Presiden Jokowi, bahwa kita harus hidup berdamai dengan Covid 19. Kita tidak lagi mempermasalahkan harus hidup dengan masker, kita tidak lagi mempersoalkan harus menjaga jarak dengan orang lain, kita tidak lagi protes dengan segala macam cara hidup baru yang diperlukan. Mengapa harus new normal? Maka jawabannya adalah mengapa tidak, karena hidup new normal tidak memberatkan. Kita sudah terbiasa baik secara fisik maupun secara mental kita sudah membiasakan diri. Jadi hidup new normal, siapa takut.

Artikel Lainnya:

Change Management Strategies For Getting Back To Work: 10 Ways To Ensure Success

Cara Membuat Rencana Bisnis Selama Masa yang Tidak Terduga 

Sepuluh Alasan Mengapa Rapat Virtual Menjadi Hal Terbaik di Tahun 2020

Post Author: Martinus Tukiran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *