Kepemimpinan di Saat Sulit

Tidak pernah mudah untuk memegang jabatan dalam sebuah organisasi, tetapi mari kita bayangkan bagaimana rasanya bagi kebanyakan Manajer yang memimpin dalam situasi pandemi saat ini. Seolah tidak cukup untuk mengelola operasi harian atau mempertahankan pelanggan dengan alasan COVID19.

Manajer perlu membuat keputusan yang sangat sulit yang memengaruhi kehidupan karyawan dan masa depan organisasi mereka. Tekanan yang dirasakan sangat besar, bahkan lebih dari sebelumnya.

Apa yang diperlukan Manajer dalam situasi seperti ini?

Kembali kepada Visi masing-masing.

Di saat seperti ini peranan Visi akan menjadi terasa bagi pemimpin, apa dan bagaimana yang harus dilakukan dalam situasi sulit dan dengan pilihan yang terbatas ini. Visi menyajikan komponen penting, karena menjadi pedoman bagi berbagai alasan yang telah ditetapkan dalam misi, nilai representative dalam budaya perusahaan, dan strategi yang akan dilakukan untuk melaksanakan pernyataan yang telah ditetapkan.

Sekedar mengingatkan kita kembali, bahwa secara teoritis visi akan memberikan beberapa manfaat sebagai berikut;

  • Visi memberikan inspirasi untuk menjadi arah bersama bagi setiap anggota organisasi untuk melakukan kegiatan mereka masing-masing yang berbeda namun akan bermuara pada satu tujuan yang sama.
  • Visi memberikan motivasi kepada anggota organisasi untuk melakukan langkah dengan arah tujuan yang jelas, sehingga ketetapan hati dan kecercayaan diri akan menjadi modal yang cukup untuk melakukan hal-hal operasional yang akan menghasilkan sinergi yang berdampak signifikan kepada perusahaan.
  • Visi menjadi perekat para anggota organisasi yang berasal dari berbagai latar belakang untuk bisa membaur, saling berbagi, dan bekerja sama untuk mewujudkannya.

Memang tidak mudah merumuskan Visi yang tulus, genuine, dan berdampak. Dalam situasi normal sering kita kesampingkan karena lebih prioritas untuk melaksanakan yang operasional daripada merenung merumuskan visi. Namun dalam masa yang sulit ini visi menjadi mendesak dan akan memberikan manfaat yang signifikan jika kita telah merhasil merumuskannya dengan baik sebelumnya. Bagi pemimpin yang belum sempat merumuskan visi, maka lebih baik terlambat merumuskannya sekarang daripada tidak sama sekali.

Tidak jelas dan bingung akan melekat kepada kita, apa yang akan terjadi dengan masa depan dalam situasi seperti ini. Namun, dengan intusi dan idealime yang melekat pada pribadi kita masing-masing sebagai pemimpin, saya percaya ada harapan yang akan mengarahkan kita kepada visi yang mau kita tuju.

Visi adalah keadaan organisasi yang ingin diwujudkan di masa yang akan datang. Jadi kata kunci visi adalah menjadi apa (to be). Visi organisasi adalah pernyataan singkat yang menunjukkan keinginan organisasi menjadi sesuatu yang diimpikan di masa yang akan datang. Visi berisi pernyataan mengenai arah tujuan di masa depan yang ingin dicapai organisasi dalam lima, sepuluh, lima belas tahun mendatang

Tunjukkan lebih banyak empati.

Definisi empati yang sederhana adalah mampu melangkah ke posisi orang lain. Para pemimpin memiliki kebijaksanaan dan keahlian yang diperlukan untuk mengelola Organisasi yang menjadi bagian tanggungjawab mereka. Sekarang, lebih dari sebelumnya, para pemimpin harus melampaui kerisauan hati, mendengarkan apa yang tidak terucapkan, dan menunjukkan bahwa kita mengerti perasaan orang lain. Ketika pesan berbicara di kepala dan hati, para pemimpin dapat memiliki dampak yang lebih besar, karena semua orang merasa didengar.

Para Manajer saat ini juga sering dilanda perasaan tidak menentu terkait dengan isolasi dan kesepian yang timbul karena membuat keputusan yang sulit atau tidak populer. Keputusan yang sulit jangka pendek kadang perlu kita lakukan misalnya untuk melakukan pemotongan gaji dan/atau memberhentikan sejumlah besar karyawan. Dalam situasi ini lakukanlah yang perlu dilakukan secara rasional dengan menunjukka rasa empati yang cukup dengan keputusan yang kita harus lakukan. Pemimpin sejati adalah pemimpin yang melakukan hal secara benar (DOING THE RIGHT things).

Melakukan keputusan yang sulit, diatas ketulusan, kejujuran, dan empati merupakan sebuah keharusan yang dilakukan pemimpin. Kita perlu ingat bahwa dibalik semua kesulitan ini, ada badai yang akan berlalu. Kita berharap, jika badai berlalu ada yang bisa kita bangun kembali diatas jejak ketulusan, kejujuran, dan empati yang telah kita lakukan sebelumnya.

Artikel Lainnya :

4 Ways to Create a Learning Culture on Your Team

5 Behaviors of Leaders Who Embrace Change

Leading Change: Why Transformation Efforts Fail?

Post Author: Martinus Tukiran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *